Adalah suatu hal yang paling tidak kamu inginkan ketika harus menerima kenyataan bahwa malaikatmu tak lagi lengkap. Ya, mereka, malikatmu, Ibu dan Ayah. Ketika mereka masih lengkap setia berada disisimu, mungkin tak pernah terbesit dibenakmu kemungkinan esok salah satu atau bahkan keduanya akan pergi meninggalkanmu selamanya. Mereka yang setiap hari selalu tertangkap oleh matamu, memanggil namamu, sampai tersenyum untukmu, akan segera memenuhi panggilan dari penciptanya. Mau tidak mau, kamu harus menerima itu. Mau tidak mau dari detik ini juga kamu harus siap, karena kita tak tahu kapan hal itu menimpa hidup kita. Mungkin saat ini sedikitpun kamu tak memikirkan hal itu, seakan kamu aman akan memiliki mereka seterusnya. Tidak, tidak, kawanku. Bayangkan, penyakit jahat akan menyerang salah satu diantara mereka dan mereka menyembunyikannya darimu. Bayangkan kecelakaan hebat menemui mereka dijalan sewaktu akan menjemputmu. Pikirkanlah kawan, ketika hanya gambar 2 dimensi wajah mereka yang dapat kau pegang, kau lihat, dan kau kenang. Pikirkanlah, ketika kau hanya dapat mendoakannya tenang dialam sana bersama bidadari-bidadari surga.
Mengapa kau harus memikirkan hal menakutkan itu? Ya, kawanku. Agar kau tak menyalahkan Tuhanmu, agar kau melapangkan lebar-lebar hatimu, agar kau menyadari bahwa begitulah hidup. Karna ketika kesedihan menyelimutimu oleh hal-hal yang tak pernah kau duga, maka hatimu akan meledak, menolak, tak lagi dapat kau menerima logika, dan kau akan terus mengelak, "mengapa hal ini terjadi kepadaku?"
Meski raut wajahmu mencoba berdiri tegak, tapi hatimu tetap bergejolak. Ini sangatlah berat, kawan. Tak semudah kau melihat temanmu yang tlah berdiri tegak mengalami hal ini.
Dan yang terpenting, kawanku, dengan meng'iya'kan kemungkinan buruk itu, setidaknya kau akan terus mencoba memberikan hal yang terbaik bagi mereka disetiap waktumu. Jangan pernah berpikir karna kau tlah dewasa, maka mereka tak begitu berarti lagi bagi hidupmu, mereka tak akan berpengaruh bagi hidupmu, dan mereka hanya akan menjadi beban untuk kau nafkahi ketika kau sendiri harus menafkahi keluarga kecilmu. Tolonglah, kawanku... Untuk sedetik ini, hapuslah sejenak urusan sekolahmu, pekerjaanmu, organisasimu, atau bahkan percintaanmu. Renungkan kembali kata-kata sederhana ini. Lalu lakukanlah apa yang hati kecilmu bisikkan. Mungkin kau berpikir ini hanya tulisan biasa yang bisa saja kau ciptakan setiap saat dan kau bacakan dihadapan teman-temanmu. Bukan, kawan. Tulisan ini ada karna aku yang tlah bersayap satu.

