Terik itu membungkam mataku
Mengangkat jemariku mengusap peluh
Terik itu membuka awan
Menyingkap mendung membawa kehangatan
Seiring haluan ia berjalan
Menemani sepi menyisir mentari
Debu yang mati oleh embun sang pagi
Perlahan melayang mengikuti
Sampai disini aku tertahan
Tetapi pintu masih saja terkunci
Ayunan dahan kenanga, membawa emosi terkubur dalam
Ingin kupetik satu yang dipucuk sana
Namun gugur sebelum ku jamah
Hela napas membawa kakiku kembali
Lalu ku berpaling, menatap langit setengah hati
Tersadar kini, ia telah pergi bersama angin
Ya, terik itu mengubur sinarnya
Membunuh sang debu, membangunkan dingin yang terlelap
Kini mataku gontai, setitikpun tak bisa ku lihat
Disana hijabku tersapu, tapi tak tersingkap
Menusuk rangka tubuhku, merobek aliran darahku
Ku panggil, kau pembunuh keji
Dengan senyuman sekarat aku akan berbisik
Empat nyawaku masih terbaring dibalik pintu
